Rabu, 24 Mei 2023

Audit Sampling


 SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TRANSAKSI

1. SAMPEL REPRESENTATIF

    Sampel representatif adalah sampel yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan karakteristik populasi. Hal ini berarti bahwa unsur sampel serupa dengan unsur yang tidak diikutsertakan dalam sampel. Risiko non-sampling adalah risiko bahwa suatu pengujian audit tidak dapat mengungkapkan adanya penyimpangan dalam sampel. Risiko sampling adalah risiko auditor mencapai suatu kesimpulan yang keliru karena sampel tidak mencerminkan populasi...

2. SAMPLING STATISTIK DAN SAMPLING NON-STATISTIK SERTA PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK DAN NON-PROBABILISTIK

a. SAMPLING STATISTIK DAN SAMPLING NON-STATISTIK

    Metode sampling audit dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yakni sampling statistik dan sampling non-statistik. Kedua kategori ini serupa karena keduanya terdiri dari tiga tahapan, yaitu: Merencanakan sampel, Memilih sampel dan melakukan pengujian, Mengevaluasi hasil

b. PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK DAN NON-PROBABILISTIK

    Pemilihan sampel probabilistik, auditor memilih unsur-unsur sampel secara acak (random) yang setiap unsur populasinya memiliki probabilitas yang diketahui untuk dimasukkan dalam sampel. Dalam pemilihan sampel non-probabilistik, auditor memilih unsur sampel dengan menggunakan pertimbangan profesionalnya, tidak menggunakan metoda probabilistik.

3. METODA PEMILIHAN SAMPEL NONPROBABILISTIK

    Metoda pemilihan sampel non-probabilistik adalah metoda-metoda yang tidak memenuhi persyaratan teknis untuk pemilihan sampel probabilitas.

a. PEMILIHAN SAMPEL LANGSUNG

    Auditor sengaja memilih setiap unsur di dalam sampel berdasarkan kriteria menurut pertimbangannya sendiri dan tidak memilihnya secara acak.

b. PEMILIHAN SAMPEL BLOK

    Auditor memilih unsur pertama dalam suatu blok, dan selanjutnya dipilih secara berurutan. Penggunaan sampel blok biasanya dapat diterima hanya apabila jumlah blok yang digunakan cukup banyak. Apabila hanya sedikit blok yang digunakan, probabilitas untuk mendapatkan satu sampel yang tidak representatif akan terlalu besar, terutama bila terjadi pergantian pegawai, terjadi perubahan sistem akuntansi dan adanya sifat musiman seperti yang sering dijumpai dalam banyak bisnis. 

4. METODA PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK 

    Sampling statistik mengharuskan digunakannya sampel probabilistik untuk menghitung risiko sampling. Untuk sampel probabilistik, auditor tidak menggunakan pertimbangan (judgement) tentang unsur sampel mana yang akan dipilih, kecuali dalam memilih metoda seleksinya.

a. PEMILIHAN SAMPEL ACAK SEDERHANA

    Dalam suatu sampel acak sederhana, setiap kombinasi unsur populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dimasukkan dalam sampel. Auditor menggunakan acak sederhana untuk populasi sampel apabila tidak ada kebutuhan untuk menekankan satu atau lebih tipe unsur populasi. 

b. PEMILIHAN SAMPEL SISTEMATIK

    Dalam pemilihan sampel sistematik, auditor menghitung suatu interval dan kemudian memilih unsur-unsur untuk sampel berdasarkan ukuran interval. Interval ditentukan dengan membagi ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki. Keuntungan pemilihan sistematik adalah mudah penggunaannya

5. PEMILIHAN SAMPEL UNTUK TINGKAT PENYIMPANGAN

    Auditor menggunakan sampel dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi untuk menaksir persentase unsur-unsur dalam suatu populasi yang berisi suatu populasi data akuntansi berikut: Penyimpanan dari pengendalian yang ditetapkan klien, Kesalahan penyajian rupiah dalam populasi data transaksi, Kesalahan penyajian rupiah karakteristik atau atribut. Persentase ini disebut tingkat keterjadian atau tingkat penyimpangan, Auditor menaruh perhatian pada jenis-jenis penyimpangan dalam populasi detil saldo akun

6. PENERAPAN PEMILIHAN SAMPEL AUDIT NON-STATISTIK

     Auditor menggunakan 14 langkah yang dirancang untuk menerapkan sampling audit dalam pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi, menetapkan tujuan pengujian audit, menentukan apakah sampling audit bisa diterapkan, merumuskan atribut dan kondisi-kondisi penyimpangan, perumusan populasi, perumusan unit sampling, menetapkan tingkat penyimpangan bisa ditoleransi, merumuskan risiko yang bisa diterima untuk penetapan risiko pengendalian terlalu rendah, menaksir tingkat penyimpangan populasi, menentukan ukuran sampel awal, memilih sampel, melaksanakan prosedur audit, generalisasi dari sampel ke populasi, menganalisis penyimpangan, memutuskan akseptabilitas populasi. Auditor harus mengikuti langkah langkat tersebut dengan cermat untuk memastikan diterapkannya persyaratan audit maupun sampling dengan benar.

7. SAMPLING AUDIT STATISTIK

    Metode sampling statistik yang paling umum digunakan untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi adalah sampling atribut (atribute sampling). Sampling non-statistik juga memiliki atribut, yang merupakan karakteristik yang sedang diuji dalam populasi, tetapi sampling atribut merupakan metode statistik

8. DISTRIBUSI SAMPLING

    Auditor mendasarkan pengujian statistiknya pada distribusi sampling. Distribusi sampling adalah distribusi frekuensi hasil semua sampel berukuran khusus yang dapat diperoleh dari populasi yang memiliki beberapa karakteristik tertentu. Distribusi sampling memungkinkan auditor untuk membuat laporan probabilitas mengenai kemungkinan terwakilnya setiap sampel dalam distribusi. Sampling atribut didasarkan pada distribusi binominal, dimana setiap sampel dalam populasi memiliki satu dari dua nilai yang mungkin atau deviasi pengendalian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penyelesaian Audit dan Laporan Audit Mengkomunikasikan Hasil Prosedur Tindak Lanjut

Proses dalam Penyelesaian Audit 1.  Melaksanakan pengujian tambahan untuk penyajian dan pengungkapan  Sebagai bagian dari proses audit, audi...