Jumat, 09 Juni 2023

Penyelesaian Audit dan Laporan Audit Mengkomunikasikan Hasil Prosedur Tindak Lanjut

Proses dalam Penyelesaian Audit

1. Melaksanakan pengujian tambahan untuk penyajian dan pengungkapan 

  • Sebagai bagian dari proses audit, auditor mengevaluasi bukti yang mereka peroleh selama tiga tahap pertama dalam audit untuk menentukan apakah mereka mesti melaksanakan prosedur-prosedur tambahan untuk tujuan-tujuan penyajian dan pengungkapan. Auditor melakukan pendekatan untuk meperoleh bukti untuk tujuan audit yang berhubungan dengan penyajian dan pengungkapan, konsisten dengan bagaimana mereka melakukan pendekatan untuk memperoleh bukti untuk tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi dan saldo (Arens, Elder, dan Beasley, 2008). 
  • Pendekatan auditor dalam memperoleh bukti sehubungan dengan tujuan penyajian dan pengungkapan konsisten dengan pendekatan dalam memperoleh bukti yang berkaitan dengan transaksi dan saldo, diantaranya yaitu:

 Melaksanakan prosedur untuk memahami pengendalian yang berkaitan dengan tujuan penyajian dan pengungkapan sebagai bagian dari prosedur penilaian risiko. 

■ Melakukan uji pengendalian dan hubungan dengan pengungkapan ketika penilaian awal atas risiko pengendalian berada di bawah maksimum. 

■ Melaksanakan prosedur substantive untuk memperoleh assurance bahwa semua tujuan audit dicapai untuk informasi dan jumlah yang disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan.

    Salah satu ke khawatiran utama auditor berkenaan dengan tujuan penyajian dan pengungkapan adalah menentukan apakah manajemen telah mengungkapkan semua informasi yang diperlukan (tujuan kelengkapan penyajian dan pegungkapan). Untuk menilai risiko bahwa tujuan kelengkapan untuk penyajian dan pengungkapan tidak dipenuhi, auditor mempertimbangkan informasi yang diperolehnya selama tiga tahap pertama pengujian audit untuk menentukan apakah mereka menyadari fakta dan situasi yang seharusnya diungkapkan.

    Sehubungan dengan uniknya pengungkapan atas kewajiban bersyarat dan kejadian setelah tanggal neraca, auditor sering kali memberikan penilaian resiko tinggi karena tidak seluruh informasi yang dibutuhkan diungkapkan dalam penjelasan tambahan. Pengujian audit yang dilakukan pada tahap awal audit sering kali tidak menyediakan bukti yang memadai mengenai kewajiban kotijensi dan kejadian setelah tanggal neraca. Oleh karena itu, auditor mendesain dan melakukan prosedur pada setiap audit untuk mereview kewajiban bersyarat dan kejadian setelah tanggal neraca sebagai bagian dari pengujian tahap keempat ini.

2. Menelaah kewajiban bersyarat dan komitmen 

Kewajiban bersyarat adalah kemungkinan potensi kewajiban di masa mendatang. Kepada pihak ketiga untuk jumlah yang tidak diketahui sebagai akibat aktivitas yang telah terjadi. Tiga kondisi yang menyebabkan adanya kewajiban bersyarat: 
• Terdapat kemungkinan pembayaran dimasa datang kepada pihak ketiga akibat kondisi saat ini.
• Terdapat ketidakpastian atas jumlah pembayaran di masa mendatang tersebut. 
• Hasilnya akan ditentukan oleh peristiwa di masa datang.

Beberapa kewajiban bersyarat tertentu yang menjadi perhatian utama auditor: 

  • Perkara hukum yang tertunda atas pelanggaran paten, kewajiban produk, atau tindakan lain.
  • Perselisihan mengenai pajak penghasilan
  • Garansi barang
  • Wesel tagih didiskontokan
  • Jaminan atas kewajiban pihak lain 
  • Saldo yang belum digunakan dalam"letter of credit" yang beredar.

    Standar audit menjadi jelas bahwa manajemen, bukan auditor, bertanggung jawab atas identifikasi dan penetapan perlakuan akuntansi yang memadai terhadap kewajiban bersyarat. Dalam banyak audit, tidaklah praktis jika auditor harus menemukan kewajiban bersyarat tanpa kerjasama dengan manajemen. Tujuan utama auditor dalam melakukan verifikasi kewajiban bersyarat yaitu untuk mengevaluasi perlakuan akuntansi atas kewajiban bersyarat yang diketahui dan untuk mengidentifikasi, asalkan praktis, kewajiban bersyarat apapun yang tidak diidentifikasi oleh manajemen.

    Komitmen sangat berkaitan erat dengan kewajiban bersyarat. Komitmen meliputi hal-hal seperti perjanjian untuk membeli bahan baku atau melakukan sewa guna usaha suatu fasilitas pada harga tertentu, perjanjian untuk menjual barang dagangan pada harga yang telah ditetapkan, rencana bonus, rencana pembagian laba dan pensiun. perjanjin royalty.dan pos-pos yang serupa. Karakteristik dalam komitmen yaitu perjanjian yang mengikat perusahaan untuk mematuhi seperangkat kondisi tertentu di masa datang tanpa menghiraukan apa yang terjadi terhadap laba perekonomian keseluruhan.

Prosedur Audit yang umum digunakan untuk mencari kewajiban bersyarat:

  • Tanya jawab dengan manajemen (lisan atau tulisan) mengenai kemungkinan adanya kewajiban bersyarat yang belum dicatat. 
  • Telaah surat ketepatan pajak tahun berjalan dan tahun lalu untuk melihat penyelesaian perselisihan atas pajak penghasilan. 
  • Telaah notulen rapat direksi dan komisaris serta pemegang saham atas adanya indikasi tuntutan atau kewajiban lain. 
  • Analisa beban hukum untuk periode yang diaudit dan telaah faktur dan pernyataan dari penasihat hokum atas adanya indikasi kewajiban bersyarat, khususnya tuntutan dan penetapan pajak yang ditunda.
  • Dapatkan konfirmasi dari seluruh pengacara utama yang melaksanakan jasa pelayanan hokum kepada klien mengenai status pending litigation atau kewajiban bersyarat lainnya. 
  • Telaah kertas kerja yang ada mengenai informasi yang menunjukkan potensi hal bersyarat.
  • Dapatkan letter of credit sedekat mungkin dari tanggal neraca dan dapatkan konfirmasi atas saldo yang digunakan maupun yang belum digunakan.

3. Evaluasi atas kewajiban bersyarat yang diketahui

    Kalau auditor menyimpulkan bahwa terdapat kewajiban bersyarat, dia harus mengevaluasi signifikasi dari potensi kewajiban dan sifat pengungkapan yang diperlukan dalam laporan keuangan. Potensi kewajiban dalam beberapa kasus yang lain, diketahui secara cukup sehingga dapat dimasukkan sebagai kewajiban aktual. Seringkali, kantor akuntan publik mendapatkan evaluasi yang terpisah mengenai potensi kewajiban dari pengacaranya sendiri darpada mengandalkan pada manajemen atau pengacara manajemen.

4. Prosedur audit untuk menemukan komitmen

    Penelitian untuk mencari komitmen yang belum diketahui biasanya dilakukan sebagai bagian dari audit atas masing-masing area audit. Misalkan, dalam memverifikasi penjualan, auditor seharusnya waspada atas adanya komitmen penjualan.

4. Permintaan keterangan ke pengacara klien

    Prosedur utama yang dapat diandalkan auditor untuk mengungkapkan tuntutan hukum yang diketahui atau klaim lain terhadap klien dan mengidentifikaisi klaim tambahan yaitu tanya jawab dengan pengacara klien.

5. Surat tanya jawab standar ke pengacara klien harus mencakup informasi: 

  • Daftar yang mencakup (1) ancaman perkara yang tertunda (2) klaim yang dituntut atau tidak atau tidak dituntut dengan mana pengacara telah terlibat mendalam. 
  • Permintaan agar manajemen menyediakan informasi atau komentar mengenai kemajuan setiap pos yang ada di dalam daftar itu. Permintaan untuk identifikasi adanya tindakan hukum yang tertunda atau ancaman yang didaftarkan atau pernyataan bahwa daftar klein itu lengkap.
  • Pernyataan yang memberitahu pengacara mengenai tanggung jawab pengacara untuk memberitahu manajemen masalah hukum yang mengharuskan adanya pengungkapan dalam laporan keuangan dan menanggapi langsung auditor itu.

    Pengacara dalam tahun berjalan dapat menjadi enggan untuk menyediakan informasi tertentu kepada auditor karena mereka mempunyai kode etik kewajiban hukum untuk menyediakan informasi yang salah atau informasi rahasia. Sifat dari penolakan pengacara untuk memberikan auditor informasi lengkap mengenai kewajiban hukum dibagi menjadi dua kategori: 

  • Penolakan akibat tidak adanya pengetahuan mengenai hal yang melibatkan kewajiban bersyarat
  • Penolakan untuk mengungkapkan informasi karena dipertimbangkan sebagai informasi yang rahasia.

6. Menelaah peristiwa kemudian (Subsequent event)

    Tanggung jawab auditor untuk menelaah transaksi dan peristiwa kemudian biasanya dibatasi hanya untuk periode yang diawali pada tanggal neraca dan berakhir pada tanggal laporan audit. Terdapat dua jenis peristiwa kemudian yang memerlukan pertimbangan manajemen dan evaluasi auditor: peristiwa yang memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian pada jumlah paoran keuangan tahun ini dan peristiwa yang tidakmemiliki dampak langsung terhadap jumlah laporan keuangan tetapi memerlukan pengungkapan. 

Peristiwa yang memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian.

    Beberapa peristiwa yang muncul setelah tanggal neraca menyediakan informasi tambahan terhadap manajemen dan membantu membantu mereka menentukan penyajian yang wajar dari saldo akun pada tanggal neraca. Peristiwa periode kemudian, seperti berikut ini, memerlukan penyesuaian terhadap saldo akun pada laporan keuangan taun ini jika jumlahnya material: 

  • Pernyataan kebangkrutan oleh pelanggan dengan saldo piutang usaha yag beredar karena kondisi keuanganpelanggan yang memburuk. 
  • Penyelesaian tuntutan hukum dengan jumlah yang beredar dari jumlah yang dicatat dari pembukuan.
  • Penyingkiran peralatan yang tidak digunakan dalam operasi denganharga dibawah nilai buku pada saat ini. 
  • Penjualan investasi dengan harga dibawah yang tercatat
 Peristiwa yang tidak memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan tetapi memerlukan pengungkapan.  Peristiwa atau transaksi yang muncul diperiode selanjutnya yang mungkin memerlukan pengungkapan dan bukan penyesuaian dilaporan keuangan termasuk:

  • Penurunan dalam nilai pasar sekuritas yang dipegang untuk informasi sementara atau untuk dijual kembali.
  • Penerbitan obligasi atau sekuritas 
  • Penurunan dalam nilai pasar dari persediaan sebagai konsekuensi dari tindakan pemerintah yang menghalangi penjualan lebih lanjut dari suatu produk. 
  • Kerugian persediaan yang tidak diasuransikan akibat dari kebakaran. 
  • Marger atau akuisisi

7. Pengujian audit

Prosedur audit untuk menelaah kejadian setelah tanggal neraca terbagi dalam dua kategori yaitu: 

• Prosedur yang biasanya terintegrasi sebagai bagian dari verifikasi saldo akun akhir tahun. Prosedur ini meliputi pengujian pisah batas dan penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari pengujian perincian saldo. Misal auditor memeriksa transaksi penjualan dan pembelian setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah pisah batasnya akurat.

 Prosedur yang dilakukan khususnya untuk menemukan kejadian atau transaksi yang harus diakuai sebagai kejadian setelah tanggal neraca. Kategori pengujian kedua adalah pengujian yang khusus menyediakan informasi untuk menguji saldo akun tahun berjalan atau penjelasan tambahan sebagai pengujian kelengkapan untuk tujuan penyajian dan pengungkapan. Pengujian tersebut meliputi:

 Tanya jawab dengan Manajemen. Tanya jawab dengan pihak manajemen mengenai kejadian setelah tanggal neraca harus dilakukan dengan pihak klien yang tepat untuk mendapatkan jawaban yang memadai. 

■ Koresondensi dengan Pengacara. Auditor berkorespondensi dengan pengacara sebagai bagian dari pencarian kewajiban kontijensi. Auditor biasanya meminta pengacara untuk memberikan tanggal dan mengirimkan surat pada tanggal penyelesaian pekerjaan lapangan untuk memenuhi kewajiban auditor atas kejadian setelah tanggal neraca. 

 Telaah atas Laporan Internal yang dibuat setelah tanggal neraca. Dalam menelaah laporan internal, auditor harus menekankan perubahan pada bisnis perusahaan yang dibandingkan dengan hasilnya untuk periode audit dan perubahan setelah akhir tahun. Mereka harus berhati-hati atas perubahan besar yang terjadi dalam bisnis atau lingkunganr dimana klien beroperasi. Auditor harus membahas laporan intern dengan manajemen untuk menentukan apakah laporan itu dibuat dengan dasar yang sama dengan laporan periode berjalan dan melakukan Tanya jawab mengenai perubahan signifikan atas hasil operasinya. 

 Telaah atas pencatatan yang dibuat setelah tanggal neraca. Auditor harus menelaah jurnal dan buku besar untuk menentukan keberadaan dan sifat dari transaksi signifikan yang berhubungan dengan tahun berjalan. Jika jurnal tidak selalu terbarui, maka auditor harus menelaah dokumen yang akan digunakan untuk menyusun jurnal tersebut.

 Pemeriksaan notulensi pertemuan dewan direksi setelah tanggal neraca. Auditor harus memeriksa notulensi pertemuan pemegang saham dan pertemuan direksi atas kejadian-kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi pelaporan periode berjalan.

 Permintaan surat representasi. Surat represintasi dibuat oleh manajemen klien kepada auditor yang menyatakan adanya perbedaan hal-hal selama masa audit, termasuk pembahasan mengenai kejadian setelah tanggal neraca, Surat ini harus dibuat dan mencakup hal-hal lain yang penting.

8. Penetapan Tanggal Ganda 

    Biasanya auditor menentukan bahwa kejadian setelah tanggal neraca yang memengaruhi laporan keuangan periode berjalan terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai, tetapi sebelum laporan audit diterbitkan. Misal jika klien audit membeli perusahaan lain setelah hari terakhir pekerjaan lapangan. Dengan mengasumsikan bahwa pembelian terjadi pada 23 Maret, sedangkan hari terakhir pekerjaan lapangan adalah 11 Maret. Dalam situasi ini, PSA 43 (SA 530) mensyarakatkan auditor untuk memperluas pengujian audit pada kejadian setelah tanggal neraca yang baru ditemukan untuk memastikan hal itu sudah diungkapkan. 

Auditor memiliki dua pilihan atas perluasan pengujian kejadian setelah tanggal neraca, yaitu:

o Memperluas seluruh kejadian setelah tanggal neraca ke batas tanggal yang baru.

o Membatasi telaah kejadian setelah tanggal neraca sehubungan dengan kejadian baru setelah tanggal neraca.

9. Pengumpulan bahan bukti akhir 

Pengumpulan bahan bukti akhir ini, terdiri dari beberapa tahap yaitu:

  • Melakukan prosedur analitis akhirSaat melakukan prosedur analitis selama tahap telah akhir, yang disyaratkan dlam standar audit, rekanan biasanya membaca laporan keuangan, termasuk penjelasan tambahan, dan mempertimbangkan hal berikut:

            ■ Kecukupan bukti yang dikumpulkan atas saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan                    atau hubungan yang teridentifikasi selama perencanaan atau selama pelaksanaan audit.

             ■ Saldo akun yang tidak lazim atau tidak diharapkan atau hubungan yang tidak teridentifikasi                      sebelumnya. 

             ■ Hasil dari prosedur analitis akhir bisa jadi mengindikasikan bahwa bukti audit tambahan                           dibutuhkan. 

  • Mengevaluasi asumsi kelangsungan usaha. Auditor membuat penilaian pada awalnya sebagai bagian dari perencanaan, tetapi bisa saja mengubah hasil penilaian bila ada informasi baru. Misalnya, penilaian awal atas kelangsungan usaha akan direvisi bila ada temuan auditor selama masa audit bahwa perusahaan tidak dapat membayar utang, kehilangan konsumen utama, atau memutuskan untuk menjual aset penting untuk membayar utang. Auditor menggunakan prosedur analitis, mendiskusikan dengan manajemen mengenai kemungkinan adanya kesulitan keuangan, dan mengumpulkan informasi mengenai bisnis klien selama masa audit agar dapat memberikan penilaian terhadap kemungkinan kesulitan keuangan pada tahun depan. Penilaian akhir atas kelangsungan usaha entitas dipertimbangkan setelah seluruh bukti dikumpulkan dan rencana penyesuaian audit diajukan kedalam laporan keuangan. Saat auditor menetapkan asumsi kelangsungan usaha, mereka harus mengevaluasi rencana manajemen dalam menghindari kebangkrutandan mengevaluasi kelayakan dalam realisasi rencana tersebut.
  • Memperoleh surat representasi manajemen. Tiga tujuan suat representasi klien tersebut adalah:
- Menekankan kepada manajemen bahwa mereka bertanggung jawab atas penilaian laporan keungan. Manajemen mudah melupakan tanggung jawab mereka atas penyajian laporan keuangan yang wajar, terutama untuk perusahaan kecil yang personelnya kurang memahami akuntansi. 

- Mengingatkan manajemen atas potensi salah saji atau hal yang tidak dimasukkan dalam laporan keuangan. Misalnya, jika surat representasi memasukkan referensi aset yang dijaminkan atau kewajiban kontijensi, maka manajemen yang jujur akan diingatkan atas kesalahan tak disengaja terhadap pengungkapan laporan keuangan secara memadai, yang akan membantu memenuhi kelengkapan tujuan penyajian dan pengungkapan. Untuk memenuhi tujuan ini, surat representasi harus memuat perincian secara memadai untuk mengingatkan manajemen. 

- Mendokumentasikan jawaban dari manajemen atas tanya jawab mengenai berbaagai spek dalam audit. Dokumen ini dinuat tertulis dan memuat perihal ketidaksetujuan atu tuntutan hukum antara auditor dengan klien. Oleh karena hal ini lebih formal dibandingkan dengan kamunikasi langsung maka surat representasi juga membantu mengurangi kesalahpahaman antara manajemen dan auditor.

    SA 333 menyebutkan empat kategori penting yang perlu dimasukkan. Keempat kategori tersebut beserta contohnya, adalah sebagai berikut:

  • Laporan keuangan. Pernyataan manajemen berisi pertanggungjawaban atas penyajian laporan keuangan yang wajar. Keyakinan manajemen bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. 
  • Kelengkapan informasi. Ketersediaan seluruh pencatatan akuntansi dan data terkait. Kelengkapan dan ketersediaan seluruh notulensi pertemuan pemegang saham, direktur, dan dewan direksi.
  • Pengakuan pengukuran dan pengungkapan. Keyakinan manajemen bahwa dampak dari salah saji laporan keuangan yang tidak dikoreksi adalah tidak material bagi laporan keuangan keseluruhan. Informasi mengenai kecurangan meliputi (a) manajemen, (b) karyawan yang berperan penting dalam pengendalian internal, atau (c) lain-lain dimana kecurangan dapat berdampak material dalam laporan keuangan. Informasi mengenai transaksi pihak terkait dan jumlah piutang dan terutang dari dan kepada pihak terkait. Klaim yang belum diajukan atau penilaian dari pengacara klien memiliki asersi penting dan harus diungkapkan sesuai PSAK No.57, Estimasi Utang, Kewajiban Kontijensi, dan Aset Bersyarat.
  • Kejadian setelah tanggal neraca. Kebangkrutan konsumen utama dengan piutang dagang berjumlah besar pada tanggal neraca. Penggabungan usaha atau akuisisi setelah tanggal neraca. Surat representasi klien adalah pernyataan tertulis dari sumber yang tidak independen, karena itu tidak dapat dianggap sebagai bukti yang bisa diandalkan. Meskipun demikian, surat tersebut merupakan dokumen dimana manajemen ditanyai dengan pertanyaan tertentu untuk memastikan bahwa manajemen memahami tanggung jawabnya dan untuk melindungi auditor jika manajemen akan menuntut auditor.
  • Mempertimbangkan Informasi yang Menyertai Laporan Keuangan Dasar Auditor harus jelas memisahkan audit dan tanggung jawab pelaporan atas laporan keuangan utama dan untuk informasi tambahan. Biasanya, auditor tidak melakukan audit terperinci yang memadai untuk menyesuaikan opini atas informasi tambahan, tetapi dalam kondisi tertentu auditor dapat saja mengandalkan bahwa informasi tersebut disajikan dengan wajar. Standar pelaporan profesi mensyaratkan auditor untuk membuat pernyataan yang jelas mengenai tingkat tanggung jawab yang diambil atas informasi tambahan ini. Dua jenis opini yang diperbolehkan opini positif yang mengindikasikan tingkat kepastian tinggi atau tidak memberikan pendapat yang mengindikasikan tidak ada kepastian. Klien kadang-kadang memasukkan informasi tambahan di luar laporan keuangan dasar yang dibuat untuk manajemen atau pengguna laporan dari luar. PSA 36 (SA 351) merujuk pada informasi tambahan tersebut sebagai informasi yang menyertai laporan keuangan dasar dalam dokumen yang diserahkan oleh auditor. Saat auditor menerbitkan opini atas informasi tambahan yang menyertai laporan keuangan, materialitasnya sama dengan yang digunakan dalam membuat opini terhadap laporan keuangan dasar. Akibatnya, prosedur tambahan yang diperlukan tidak seluas saat auditor menerbitkan opini atas informasi yang diambilnya sendiri. seperti atas laporan akun atau bagian tertentu. Auditor memberikan tambahan kata-kata pada laporan standar auditor saat menyatakan opini untuk tambahan informasi, seperti contoh berikut: Audit kami dilakukan dengan membentuk opini atas laporan keuangan dasar secara keseluruhan. Informasi yang menyertai pada halaman x sampai y disajaikan sebagai analisis tambahan dan bukan bagian penting dalam laporan keuangan dasar. Informasi ini ditujukan untuk memenuhi prosedur audit yang diterapkan pada audit laporan keuangan dasar dan, dalam opini kami, disajikan dengan wajar dalam segala hal yang sifatnya material sehubungan dengan laporan keuangan dasar secara keseluruhan. 
  • Membaca Informasi Lain Dalam laporan Tahunan. PSA 44 (SA 550) laporan tahunan mengenai laporan keuangan. Misalnya, asumsikan bahwa surat direktur dalam laporan tahunan menyebutkan kenaikan laba per lembar saham dari Rp.2.600 menjadi Rp.2.930. auditor diminta untuk membandingkan informasi tersebut dengan laporan keuangan atas kesesuaiannya. SA 550 hanya menyebutkan informasi yang bukan bagian dari laporan keuangan, tetapi dipublikasikan bersama dengan laporan ini. Misalnya, surat direktur dan penjelasan atas aktivitas perusahaan yang dimasukkan dalam laporan tahunan untuk hampir sekuruh perusahaan publik. Auditor biasanya hanya menghabiskan waktu beberapa menit untuk memastikan bahwa informasi non-laporan keuangan konsisten dengan laporannya. Jika auditor menyimpulkan bahwa ada ketidakkonsistenan yang material, maka ia harus meminta klien untuk mengubah informasi tersebut. Jika klien menolak, dan hal ini tidak biasa, maka auditor akan memasukkan paragraf penjelasan dalam laporan audit atau mengundurkan diri.

10. Evaluasi hasil

    Setelah melaksanakan seluruh prosedur audit dalam setiap area audit. termasuk telaah untuk kontinjensi dan kejadian setelah tanggal neraca serta akumulasi bukti akhir, auditor harus mengintergrasikan hasil tersebut kedalam satu kesimpulan keseluruhan mengenai laporan keuangan. Pada akhirnya, auditor harus memutuskan apakah bukti audit sudah memadai dan tepat untuk diakumulasikan untuk menjamin kesimpoulan bahwa laporan keuanga disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum, dan diaplikasikan secara konsisten dengan tahun sebelumnya.

    Evaluasi akhir atas kecukupan bahan bukti adalah berupa penelaahan oleh auditor atas seluruh audit untuk menentukan apakah seluruh aspek penting telah cukup diuji setelah mempertimbangkan situasi penugasan. Langkah utama dalam proses ini adalah penelaahan program audit untuk meyakinkan bahwa seluruh bagian telah secara akurat diselesaikan dan didokumentasikan dan bahwa seluruh tujuan audit dipenuhi.

  • Bukti yang tepat dan memadai. Untuk membuat evaluasi akhir apakah bukti sudah diakumulasikan dengan tepat dan memadai, auditor menelaah dokumentasi atas audit keseluruhan untuk menentukan apakah seluruh hal material dari transaksi, akun dan pengungkapan sudah diuji secara memadai. dengan mempertimbangkan seluruh kondisi audit. Bagian penting dalam telaah adalah memastikan bahwa seluruh bagian dari program audit dilengkapi dengan akurat dan didokumentasikandan seluruh tujuan audit terpenuhi. Untuk membantu dalam memutuskan apakah audit sudah memadai, auditor sering menggunakan daftar pembanding (checklist) penyelesaian audit, sebagi pengingat biloa ada yang terlewatkan. Jika auditor memutuskan bahwa bukti yang memadai tidak terpenuhi dalam rangka memutuskan apakah laporan keuangan disajikan secara wajar, maka mereka memiliki dua pilihan: (1) mengakumulasikan bukti tambahan atau (2) menerbitkan opini dengan pengecualian atau tidak memberikan opini.
  • Bukti pendukung opini auditor. Bagian penting dari evaluasi apakah laporan keuangan disajikan secara wajar adalah mengikhtisarkan salah saji yang ditemukan dalam audit. Manakala auditor menemukan salah saji yang material, neraca saldo harus disesuaikan untuk menkoreksi laporan keuangan. Jika auditor percaya bahwa terdapat kecukupan bahan bukti tetapi tidak menjamin kesimpulan mengenai penyajian laporan keuangan yang awajar, auditor sekali lagi mempunyai dua pilihan: laporan harus direvisi hingga auditor puas atau memberikan pendapat wajar tanpa syarat atau menolak untuk memberikan pendapat harus diterbtikan. Perhatikan bahwa pilihan disini berbeda dengan yang dibahas dalam kasus ketidakcukupan bahan bukti yang diperoleh.
  • Pengungkapan laporan keuangan. Sebelum menyelesesaikan audit, auditor harus membeuat evaluasi akhir apakah pengungkapan laporan keuangan sudah memenuhi seluruh tujuan penyajian dan pengungkapan. Sebagai bagian dari telaah akhir dalam pengungkapan laporan keuangan, banyak KAP mensyaratkan adanya penyelesaian daftar pembanding laporan keuangan untuk setiap audit. Kuesioner ini didesain untuk mengingatkan auditor tentang masalah yang biasanya muncul dalam laporan keuangan dan memfasilitasi telaah akhir untuk keseluruhan audit oleh seorang rekanan independen.
  • Telaah dokumentasi audit. Ada tiga alasan mengapa staf firma audit yang berpengalaman harus menelaah dokumentasi audit pada saat penyelesaian audit: 1) Untuk mengevalusi kinerja karyawan yang belum berpengalaman. Bagian yang perlu dipertimbangkan dari kebanyakan audit dilaksanakan oleh staf audit dengan pengalaman kurang dari empat atau lima tahun. 2) Memastikan bahwa proses audit memenuhi standar kinerja. Dalam setiap organisasi kualitas kinerja individu sangat bervariasi, tetapi penelaahan yang seksama oleh staf tingkat atas dalam perusahaan membantu mempertahankan kualitas audit yang seragam. 3) Menghilangkan kerancuan yang sering muncul dalam penilaian auditor. Auditor dapat berusaha agar senantiasa objektif dalam seluruh audit, tetapi mudah untuk kehilangan perspektif yang memadai dalam audit yang panjang jika terdapat masalah kompleks yang ingin dipecahkan.
  • Telaah independen. Pada saat penyelesaian audit yang lebih besar, biasanya terdapat telaah untuk laporan keuangan dan keseluruhan berkas audit oleh penelaah independen yang tidak terlibat dalam audit, tetapi merupakan staf kantor akuntan yang juga melakukan audit. Telaah independen diisyaratkan oleh SEC termasuk telaah atas informasi keuangan interim dan audit pengendalian internal. 
  • Ringkasan evaluasi bukti. Auditor mengevaluasi kecukupan dan kelayakan bukti pada saat mengevauasi risiko audit, berdasarkan akun dan siklus, dan kemudian membuat evaluasi yang sama untuk laporan keuangan keseluruhan. Auditor juga mengevaluasi bukti pendukung atas opini audit dengan mengestimasi salah saji dalam setiap akun dan kemudian untuk laporan keuangan keseluruhan. Evaluasi risiko audit dan estimasi salah saji dibuat pada waktu bersamaan dan berdasarkan evaluasi tersebut, laporan audit diterbitkan untuk laporan keuangan.

Proses dalam Penyusunan Laporan Audit

    Laporan auditor merupakan produk utama dari suatu proses audit. Meskipun audit mungkin memakan waktu ratusan atau ribuan jam sampai penjelasannya, namun para pengguna laporan keuangan yang telah diaudit biasanya hanya menerima laporan audit yang terdiri dari tiga paragraf yang cukup ringkas. Ada empat standar pelaporan dari standar auditing yang berlaku umum (Guy, dkk, 2003 dalam Sunyoto, 2014), yaitu:

✓ Laporan harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. 

✓ Laporan harus mengidentifikasi keadaan di mana prinsip-prinsip semacam itu tidak diobservasi secara konsisten pada periode berjalan dalam kaitannya dengan periode sebelumnya.

✓ Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang sebagai kepastian yang layak, kecuali dinyatakan lain dalam laporan. 

✓ Laporan harus memuat pemyataan pendapat tentang laporan keuangan secara keseluruhan atau asersi yang mengakibatkan suatu pendapat tidak dapat diberikan. 

    Pemisahan tanggung jawab manajemen dan auditor adalah manajemen bertanggung jawab atas pembuatan dan isi laporan keuangan, yang dimuat dalam asersi/pemyataan manajemen, sesuai Standar Akuntansi Keuangan dan ketentuan lainnya. Untuk itu manajemen perlu menyelenggarakan Sistem Pengendalian Internal (SPI) yang kuat dan andal. Auditor bertanggung jawab untuk memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang dibuat manajemen sesuai dengan Standar Auditing/Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) dan Etika Profesi. Tujuan audit, adalah untuk memungkinkan auditor memberi opini atas kelayakan laporan keuangan klien sesuai Standar Akuntansi Keuangan dan standar lainnya yang disampaikan dalam laporan audit (independen).

  Tanggung jawab auditor atas pelaporan auditnya:

  • Mengetahui dengan mendalam mengenai keempat standar pelaporan. 
  • Mengetahui kata-kata yang tepat dalam standar auditor dan kondisi-kondisi yang harus dipenuhi agar laporan auditor independen itu dapat diterbitkan. 
  • Memahami jenis-jenis penyimpangan dari laporan standar serta situasi yang sesuai untuk setiap pelaporan.
  • Memahami pertimbangan pelaporan lain yang bersifat khusus.

 ■ Standar Pelaporan Audit

1. Standar Pelaporan Pertama

    Ketika seorang auditor menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan Generally Accepeted Accounting Principle (GAAP) berarti auditor telah mempertimbangkan faktor-faktor berikut yang terdapat dalam SAS No. 69, The Meaning of Present Fairly in conformity with Generally Accepted Accounting Principles in the independent auditor's report (AU 411). yaitu:

    Prinsip-prinsip akuntansi yang dipilih dan diterapkan oleh manajemen telah berlaku umum.

  • Prinsip-prinsip akuntansi sesuai dengan keadaan. 
  • Laporan keuangan termasuk catatan yang menyertainya merupakan hal-hal informatif yang dapat mempengaruhi penggunaannya.
  • Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhtisarkan secara memadai.

2. Standar Pelaporan Kedua

    Standar konsistensi mengharuskan auditor memberikan keyakinan bahwa perubahan prinsip akuntansi tidak secara material memengaruhi laporan keuangan atau jika perubahan yang material atas prinsip-prinsip akuntansi memengaruhi komparabilitas, untuk memastikan bahwa perubahan tersebut dilaporkan kepada para pengguna laporan keuangan. Komparabilitas laporan keuangan dapat dipengaruhi oleh beberapa jenis perubahan prinsip akuntansi yang berbeda maupun faktor-faktor lainnya.

3. Standar Pelaporan Ketiga

    Tujuan standar pelaporan ketiga adalah mengharuskan agar laporan auditor mengidentifikasikan defisiensi yang material berkenaan dengan pengungkapan dalam laporan keuangan. Standar pelaporan ini tidak memerlukan pernyataan khusus dalam laporan audit, kecuali ada pengungkapan defisiensi.

4. Standar Pelaporan Keempat 

  Tujuan standar pelaporan keempat adalah untuk memastikan bahwa laporan auditor mengomunikasikan kepada para pengguna laporan keuangan tingkat keandalan laporan tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, standar keempat menetapkan sejumlah persyaratan tentang isi laporan audit, yaitu:

  • Syarat pertama adalah bahwa auditor harus memberikan pendapat atau menolak memberikan pendapat atas laporan keuangan secara menyeluruh. Persyaratan ini memastikan bahwa laporan audit telah menyatakan dengan. jelas tingkat tanggung jawab auditor dalam melakukan audit atas laporan keuangan.
  • Syarat kedua adalah bahwa auditor mengungkapkan dalam laporan audit seluruh alasan substantif untuk menyatakan pendapat selain wajar tanpa pengecualian. Jadi meskipun satu keadaan tertentu sudah cukup unuk membuat auditor memberikan pengecualian atas pendapat, jika terdapat alasan substantif lainnya yang juga akan menimbulkan pengecualian, namun pembaca laporan harus mendapatkan informasi tentang keduanya.

 ■ Tujuan Standar Laporan Audit 

  • Untuk mencegah mis interpretasi atas tingkat tanggung jawab yang diemban auditor apabila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan. Standar ini secara langsung mempengaruhi bentuk, isi, dan bahasa dalam laporan auditor.
  • Standar mensyaratkan auditor untuk menyatakan suatu pendapat keseluruhan, atau menegaskan bahwa pendapat tidak dapat dinyatakan (dalam hal ini alasannya harus diberikan).
  • Jenis laporan audit:

a.) Laporan standar-wajar (WTP)

b.) Penyimpangan dari laporan standar

- WTP dengan bahasa penjelasan

- Pendapat berbeda dengan WTP, yaitu: (i) WDP (qualified opinion), (ii) PTS (adverse opinion), dan (iii) TMP (disclaimer of opinion)

 ■ Laporan audit bentuk baku

Laporan audit terdiri dari 7 unsur, sebagai berikut:

1.) Judul laporan: "Laporan Auditor Independen"

2.) Alamat laporan: biasanya kepada para pemegang 

3.) Saham Paragraf pendahuluan:

  • Pernyataan bahwa KAP telah melakukan audit.
  • Objek yang diaudit, adalah laporan keuangan - 4 jenis, berikut periode laporan. 
  • Laporan keuangan tanggung jawab manajemen
  • Tanggung jawab auditor adalah pada pernyataan pendapat atas laporan Keuangan berdasarkan auditnya. 
4.) Paragraf skop/Ruang lingkup

  • Audit dilaksanakan sesuai dengan SPAP
  • Audit dirancang untuk memperoleh keyakinan memadai, bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.
  • Cara pengumpulan bukti audit, berdasarkan pengujian/sampling materialitas. penilaian ketepatan penggunaan SAK.
5.) Paragraf pendapat, mengenai kewajaran laporan.

6.) Nama KAP, Nama Auditor dan Tanda tangan. 

7.) Tanggal laporan audit

 ■ Informasi yang disertakan pada laporan keuangan auditan

    Informasi yang disertakan bersama laporan keuangan terdiri dari: 

a) informasi tambahan yang diharuskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, 

b) informasi yang disajikan secara sukarela oleh manajemen, dan 

c) informasi tambahan yang diberikan auditor

 Informasi tambahan yang diharuskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia

    Ikatan Akuntan Indonesia telah menetapkan bahwa informasi tambahan tertentu merupakan hal penting dari pelaporan keuangan perusahaan, misalnya IAI minta informasi tentang cadangan gas, dan bahan-bahan mineral. Auditor diminta untuk menerapkan prosedur-prosedur tertentu atas informasi dan melaporkan setiap kekurangan atau tidak disertakannya informasi tersebut. 

    Prosedur terbatas itu meliputi pengajuan pertanyaan kepada manajemen tentang metode yang digunakan dalam penyiapan informasi, dan pembandingan informasi dengan data tersedia lainnya untuk memastikan konsistensinya. Berhubung informasi tersebut tidak diaudit dan bukan merupakan bagian yang diharuskan dari laporan keuangan utama, maka SA 558 (PSA No. 50) menetapkan bahwa auditor tidak perlu mengacu ke informasi tambahan atau prosedur terbatas dalam paragraf penjelasan auditnya atas laporan keuangan auditan, kecuali jika ada keadaan berikut ini:

  • Informasi tambahan yang ditambahkan oleh IAI untuk disajikan dalam keadaan tertentu tidak disajikan oleh klien.
  • Pengukuran dan penyajian informasi tambahan tersebut menyimpang secara material dari pedoman yang ditetapkan.
  • Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur yang ditetapkan. 
  • Auditor tidak dapat menghilangkan kesanksian mengenai apakah informasi tambahan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan.

✓ Informasi yang disajikan secara sukarela oleh manajemen 

    Laporan keuangan auditan perusahaan klien biasanya disajikan dalam suatu dokumen yang disebut laporan tahunan. Dokumen tersebut berisi informasi seperti misalnya ringkasan informasi keuangan, surat dari direktur utama dan atau komisaris utama perusahaan dan data statistik keuangan komparatif, daftar-daftar, atau data keuangan dituangkan dalam bentuk grafik yang disajikan manajemen secara sukarela. Auditor diminta untuk membaca informasi tersebut untuk memastikan apakah data atau cara menyajikannya tidak konsisten secara material dengan laporan keuangan yang telah diberi pendapat oleh auditor.

✓ Informasi tambahan yang diberikan auditor

    Setelah membuat kesimpulan atas penugasan auditnya, auditor menyerahkan kepada klien sebuah dokumen yang berisi laporan keuangan utama perusahaan klien dan laporan auditor. Auditor bisa memasukkan tambahan informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan utama. Informasi seperti riwayat detail dan ringkasan pos-pos laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu analisis dan interpretasi laporan keuangan utama. Perlu dipahami bahwa tambahan informasi dalam dokumen yang dikirimkan auditor disajikan di luar laporan keuangan utama dan tidak diperlukan untuk penyajian laporan keuangan secara wajar. Seperti halnya laporan keuangan utama, data dalam informasi tambahan adalah pernyataan manajemen karena informasi tersebut diserap dari laporan keuangan utama.

    PSA No. 36 Pelaporan atas informasi yang menyertai laporan keuangan pokok dalam dokumen yang diserahan oleh auditor (SA 551.06) memberikan pedoman berikut ini bagi laporan auditor atas informasi yang menyertai laporan keuangan pokok dalam dokumen yang diserahkan auditor (Jusup, 2002): 

  • Laporan harus menyatakan bahwa audit telah dilaksanakan untuk tujuan menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.  Laporan harus mengidentifikasi informasi yang menyertai laporan keuangan pokok.
  • Laporan harus menyatakan bahwa informasi yang menyertai laporan keuangan pokok disajikan dengan tujuan analisis tambahan dan bukan merupakan bagian laporan keuangan pokok yang diharuskan.
  • Laporan harus berisi suatu pendapat apakah informasi keuangan yang menyertai laporan keuangan pokok disajikan secara wajar dalam semua hal yang material, berkaitan dengan laporan keuangan pokok secara keseluruhan atau pernyataan tidak memberikan pendapat, tergantung atas apakah informasi tersebut telah menjadi objek prosedur audit yang diterapkan dalam audit atas laporan keuangan pokok. Auditor dapat menyatakan pendapat atas bagian informasi keuangan yang menyertai lapran keuangan pokok dan menyatakan tidak memberikan pendapat atas bagian lainnya.
  • Laporan atas informasi yang menyertai laporan keuangan pokok dapat. ditambahkan dalam laporan auditor atas laporan keuangan pokok atau dapat disajikan terpisah dalam dokumen yang diserahkan oleh auditor. 

Penyelesaian Audit dan Laporan Audit Mengkomunikasikan Hasil Prosedur Tindak Lanjut

Proses dalam Penyelesaian Audit 1.  Melaksanakan pengujian tambahan untuk penyajian dan pengungkapan  Sebagai bagian dari proses audit, audi...